Kebanyakan buku kewirausahaan ditulis untuk orang yang salah di momen yang salah. Ditulis untuk seseorang yang belum mulai — penuh semangat dan inspirasi dan kisah, dirancang untuk menciptakan perasaan bahwa memulai itu mungkin. Atau ditulis untuk seseorang yang sudah berkembang secara signifikan — penuh kerangka kerja canggih yang mengasumsikan organisasi yang cukup kompleks untuk membutuhkannya.
Orang yang saya tulis The Art of Entrepreneurship untuknya adalah yang ada di tengah — sudah terjun, sudah melewati kekacauan awal, tapi belum jelas seperti apa versi berikutnya dari bisnis atau kepemimpinan mereka. Orang itu, di Indonesia, hampir tidak terlayani oleh apa pun yang ada dalam bentuk tercetak.
Celah yang Terus Saya Lihat
Setelah satu dekade berbicara di 700+ acara dan bekerja dekat dengan ribuan pengusaha di seluruh Indonesia, satu pola menjadi tidak mungkin diabaikan: titik stagnasi paling umum bukan di awal. Pemula punya sumber daya, dukungan, komunitas, dan banjir konten yang dirancang untuk mereka. Celahnya ada di tengah.
Pengusaha yang sudah berbisnis selama tiga hingga tujuh tahun, yang sudah bertahan dari perjuangan awal dan membangun sesuatu yang nyata, yang kini menghadapi serangkaian pertanyaan yang berbeda dan lebih sulit: Bagaimana saya membangun tim yang tidak bergantung pada saya untuk segalanya? Bagaimana saya memutuskan peluang mana yang dikejar dan mana yang ditolak? Bagaimana saya berkembang tanpa kehilangan apa yang membuat bisnis ini bagus sejak awal? Bagaimana saya memimpin dengan cara yang berkelanjutan secara pribadi?
Ini bukan pertanyaan pemula. Ini juga bukan pertanyaan startup yang sudah berskala. Ini adalah pertanyaan dari pengusaha yang melakukan pekerjaan keras dan tak terlihat dari membangun sesuatu yang bermakna dan tahan lama — kewirausahaan yang tidak pernah mendapat liputan pers tapi menyumbang sebagian besar penciptaan nilai ekonomi nyata di Indonesia.
"Saya ingin menulis buku yang ingin saya baca ketika berada di posisi tengah itu — bukan panduan memulai, bukan studi kasus skala masif, tapi percakapan jujur tentang seni membangun sesuatu yang nyata."
Isi Buku Ini Sesungguhnya
The Art of Entrepreneurship disusun di seputar gagasan bahwa membangun bisnis pada dasarnya adalah sebuah keahlian — sesuatu yang berkembang dari waktu ke waktu melalui praktik yang disengaja, refleksi yang jujur, dan kemauan untuk menjadi lebih baik dalam hal-hal spesifik daripada sekadar bekerja lebih keras pada segalanya.
Buku ini membahas keputusan-keputusan yang paling penting dalam fase membangun di tengah: bagaimana kamu memikirkan peranmu sendiri seiring bisnis berkembang, bagaimana membangun dan mempertahankan budaya yang bertahan dari transisi kepemimpinan, bagaimana membuat taruhan strategis ketika informasi tidak lengkap, bagaimana mengelola dimensi psikologis kewirausahaan yang hampir tidak pernah dibicarakan dengan jujur oleh siapapun.
Ini bukan buku tentang kerangka kerja. Saya skeptis dengan kerangka kerja yang mengklaim berlaku secara universal — bisnis terlalu bergantung pada konteks untuk itu. Ini lebih merupakan serangkaian pertanyaan dan perspektif yang dirancang untuk mempertajam cara kamu berpikir tentang tantangan spesifik yang kamu hadapi, di mana pun itu.
Konteks Indonesia Itu Penting
Kebanyakan buku kewirausahaan yang beredar di Indonesia adalah terjemahan dari buku-buku yang ditulis untuk khalayak Amerika atau Eropa, tentang bisnis Amerika atau Eropa, untuk kondisi yang tidak langsung sesuai dengan realitas Indonesia. Dinamika pasarnya berbeda. Tekanan bisnis keluarganya berbeda. Akses modalnya berbeda. Lingkungan regulasinya berbeda. Ekspektasi budaya seputar kepemimpinannya berbeda.
Saya mencoba menulis buku yang sungguh-sungguh berada dalam konteks Indonesia — yang tidak berpura-pura bahwa tantangan yang dihadapi pendiri di Surabaya atau Medan sama dengan tantangan pendiri di Silicon Valley, dan yang tidak merekomendasikan solusi yang mengasumsikan kondisi yang tidak ada di sini.
Bukan berarti kerangka kerja Barat tidak ada manfaatnya — seringkali ada. Tapi perlu diterjemahkan, bukan sekadar diadopsi. Sebagian dari yang saya coba lakukan dalam buku ini adalah memodelkan penerjemahan itu: mengambil ide-ide yang berharga dan menunjukkan bagaimana ide-ide itu berlaku, atau tidak berlaku, atau perlu dimodifikasi, dalam realitas spesifik membangun bisnis di Indonesia.
Yang Saya Harapkan dari Buku Ini
Saya tidak punya ilusi bahwa sebuah buku mengubah bisnis dengan sendirinya. Buku tidak membangun perusahaan. Orang yang melakukannya. Yang bisa dilakukan sebuah buku — dalam kondisi terbaiknya — adalah memberi seseorang cara berpikir yang lebih jelas tentang masalah yang sudah mereka kerjakan. Ia bisa memberi nama pada sesuatu yang mereka alami tapi belum punya bahasa untuknya. Ia bisa membuat mereka merasa tidak sendirian dalam tantangan yang mereka kira spesifik pada mereka. Ia bisa memicu percakapan dengan mitra, mentor, atau sesama yang menggerakkan sesuatu ke depan.
Jika The Art of Entrepreneurship melakukan salah satu hal itu bagi pendiri Indonesia yang berada di tengah-tengah proses membangun mereka — yang melakukan pekerjaan nyata, tanpa jaminan hasilnya — maka buku itu akan sepadan untuk ditulis.
Dapatkan The Art of Entrepreneurship
Tersedia untuk pengusaha Indonesia yang serius tentang seni membangun. Tanyakan via WhatsApp untuk ketersediaan dan pemesanan.
Dapatkan Bukunya ↗ Detail Buku